Haris Amir Falah: Radikalisme Adalah “Hijrah yang Salah Jalan”, Saatnya Kembali ke Kemanusiaan

Pembina Yayasan HWI 19 Ustaz Haris Amir Falah
Pembina Yayasan HWI 19 Ustaz Haris Amir Falah

BOGOR – Sosok Haris Amir Falah kini dikenal luas bukan lagi sebagai tokoh dalam jaringan garis keras, melainkan sebagai mesin penggerak perdamaian melalui Yayasan Hubbul Wathon Indonesia 19 (HWI 19). Dalam berbagai kesempatan wawancara, Pembina HWI 19 ini secara konsisten menyuarakan kritik tajam terhadap ideologi radikal yang pernah ia jalani.

Berikut adalah poin-poin pemikiran dan imbauan penting Haris Amir Falah yang dirangkum dari berbagai pernyataan publiknya:

1. Membedah Akar Kesesatan Berpikir

Haris Amir Falah menekankan bahwa radikalisme sering kali merupakan hasil dari “semangat tanpa kemudi”. Ia menyebut banyak anak muda terjebak karena hanya melihat agama dari satu sudut pandang yang sempit.

“Radikalisme itu lahir saat semangat beragama tidak dibarengi dengan keluasan ilmu. Akhirnya, mereka menganggap dunia ini hanya hitam dan putih, padahal Islam hadir untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan untuk menciptakan ketakutan,” tegasnya.

2. Kritik Terhadap Narasi Kekerasan

Sebagai orang yang pernah berada di dalam lingkaran tersebut, Haris memberikan pandangan bahwa kekerasan atas nama agama adalah sebuah kekeliruan besar dalam memahami konsep jihad.

“Jangan sampai kita merasa sedang membela Tuhan, padahal kita sedang menghancurkan kemanusiaan yang diciptakan Tuhan. Jihad yang paling nyata di Indonesia saat ini adalah melawan kemiskinan dan ketidaktahuan, bukan mengangkat senjata melawan sesama,” ujar Haris.

3. Imbauan Tegas untuk Pelaku Teror

Secara terbuka, Haris mengirimkan pesan bagi mereka yang masih terpapar atau terlibat dalam jaringan ekstremis. Ia meminta mereka untuk melakukan evaluasi total terhadap keyakinan yang merusak.

“Kepada kawan-kawan yang masih memegang paham ekstrem, saya katakan: Segeralah pulang. Kembali ke pangkuan keluarga dan masyarakat. Islam yang kaffah adalah Islam yang mencintai tanah airnya. Jangan biarkan masa depan kalian habis untuk sesuatu yang hanya meninggalkan air mata bagi orang tua dan keluarga.”

4. Filosofi Hubbul Wathon (Cinta Tanah Air)

Melalui Yayasan HWI 19 di Bogor, Haris ingin membuktikan bahwa nasionalisme dan agama bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengabaikan.

“Kami menamakan yayasan ini Hubbul Wathon (Cinta Tanah Air) karena kami ingin menebus kesalahan masa lalu. Kami ingin membuktikan bahwa mantan napiter bisa menjadi orang yang paling depan dalam menjaga NKRI melalui aksi nyata di masyarakat,” pungkasnya.

Tentang Haris Amir Falah:
Beliau merupakan Pembina Yayasan HWI 19 yang aktif melakukan pendampingan deradikalisasi. Melalui pendekatan literasi dan ekonomi, ia kini menjadi salah satu narasumber kunci dalam membedah peta gerakan radikalisme di Indonesia dan memberikan solusi preventif bagi generasi muda.

Pos terkait